Senin, 13 Mei 2019

Padamu, GURU


Ketika waktu perlahan berjalan,
tanpa kusadari kita akan berada pada ujung perpisahan
Aku terusik akan kenangan silam,
di mana sebuah pertemuan yang tak pernah ku bayangkan
Aku menjadi bagian hidupmu, dan engkau menjadi bagian hidupku
Tak ku pahami keadaan kala itu,
Tapi engkau menggenggam lembut tanganku
Meyakinkanku untuk masuk dalam majelis ilmumu

Masa berjalan secara alamiahnya,
Aku mulai beranjak dewasa, mulai memahami tiap petuah yang kau sabda
Jika saja waktu bisa ku putar, aku tak akan membantahnya
Apa yang kau maksudkan adalah selalu demi kebaikan
Lalu, bagaimana cara menebus ini semua?
Terlalu banyak kesalahanku padamu,
Sementara terlalu banyak jasamu terhadapku
Lalu, masih pantaskah aku untuk sekedar mencium tanganmu?

Padamu, sang pahlawan tempatku menggantungkan harapan
Memupuk tiap semangat dan keyakinan akan kesuksesan masa depan
Padamu, yang peluhnya tak sempat ku usap
Padahal pengorbananmu untukku selalu tanpa harap
Jika kata “terima kasih” sanggup membalaskan
Akan ku ucap dalam ribuan pengulangan

Terimakasih, terimakasih, terimakasih
Terimakasih untuk semua ketulusan yang kau berikan
Terimakasih untuk sinar yang menerangi jalan yang kau pancarkan
Terimakasih untuk langkah yang kau sandingkan
Terimakasih untuk semua yang kau berikan
GURU
Pekalongan, 27 April 2019

Sabtu, 20 April 2019

Berbagi dan Berbahagialah

Source pic: sbachry2002.blogspot.com

Sahabat, pernahkah kalian merasa menyesal saat kalian tidak bisa menolong orang lain?
Pernahkah kalian merasa, kalian begitu egois karena mengabaikan permintaan tolong dari orang lain?
Kalian sebenarnya ingin menolong, namun kalian merasa sedang tidak berada dikondisi yang tepat untuk menolong karena kalian pun sedang membutuhkan. Lalu, kalian menyalahkan mereka yang datang meminta pertolongan. Mereka datang diwaktu yang tidak tepat. Coba saja jika mereka datang dilain waktu, akan berlainan ceritanya. Kalian pasti dengan tangan terbuka menerima kedatangan mereka dan menyanggupi permintaan tolongnya.
Begitukah? Coba kalian pikir lagi. Mereka tidak pernah tahu waktu datangnya musibah. Siapa yang mau mengundang musibah itu datang pada diri mereka sendiri. Semua tiba-tiba terjadi, lalu mereka merasa tidak mampu menghadapi sendiri akhirnya mereka datang kepadamu meminta pertolongan.
Setiap orang selalu mempunyai kesempatan untuk menolong orang lain, namun kebanyakan manusia sering lupa akan kesempatan itu. Mereka cenderung bersikap egois dengan hanya fokus pada diri mereka sendiri.
Uluran tangan sangat bermakna bagi mereka yang sedang membutuhkan. Kalian menjadi sangat berharga dimata mereka saat datang dengan membawa yang mereka harapkan.
Nabi Saw bersabda:
"Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya"
"Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, dan tangan di bawah adalah yang menerima"
 
Sejujurnya ketika kalian menolong seseorang, kalian sedang menjadi perantara Tuhan untuk mengabulkan do'a orang tersebut. Bayangkan, kalau begitu betapa mulianya kalian. Kalian adalah orang yang dipilih oleh Allah. Jadi, jangan menunggu seseorang menjemput pertolonganmu. Selagi sempat bagimu, kau bisa menolong kapan saja, di mana saja.
Sempat rasanya tersentak mendengar penuturan dari murid cantik saya.
Namanya Putri, dia gadis cilik nan imut dan ceria. Suatu ketika disela jam istirahat, dia mengajakku bercengkrama di teras depan kelas.
"Bu guru, bu guru hobinya apa?"
Seketika aku merespon pertanyaannya dengan jujur, berharap jawabanku ini bisa menginspirasi muridku itu untuk lebih giat belajar.
"Bu guru hobinya menulis, tetapi sebelum menulis bu guru banyak membaca buku-buku dulu". Jawabku dengan senyum bangga
Lalu dia merespon balik jawabanku
"Kalau aku hobinya menolong, kalau aku tidak bisa menolong itu rasanya sedih sekali" tuturnya penuh ekspresi
Sontak aku merasa tertampar. Aku malu akan penuturannya, aku malu akan diriku sendiri yang selama ini begitu menutup mata. Selama ini, kita para orang dewasa tidak menjadikan "menolong" sebagai prioritas. Kita cenderung menempatkan "menolong" sebagai pilihan saja. Kalau kita bisa, ya menolonglah. Namun kalau kita tidak sanggup, ya sudah. Tak perlu menjadi beban. Toh, itu bukan urusan kita. Itulah yang menjadi mindset kita selama ini. Niat hati ingin memberi inspirasi murid, justru saya yang terinspirasi dari murid tersebut.

Di era modern, "menolong" tak perlu menunggu kesempatan. Setiap waktu kamu bisa memberikan pertolongan jika kamu "memprioritaskan". Jika kita tak punya "kemudahan" untuk memberikan pertolongan, maka banyak wadah yang mampu menampung "pertolongan" anda.
Salah satunya DOMPET DHUAFA, dengan menyalurkan bantuan anda ke sana maka anda membantu mengentaskan kemiskinan dalam masyarakat. Dompet dhuafa menyediakan berbagai fitur pelayanan dalam menyumbangkan bantuan, di antaranya:
1. Kanal donasi online donasi.dompetdhuafa.org
2. Transfer bank
3. Counter
4. Care visit (meninjau langsung lokasi program)
5. Tanya jawab zakat
6. Edukasi Dakar
7. Laporan donasi
Kalian bisa memilih salah satu fitur layanan yang sesuai dengan kebutuhan anda. Jika anda orang sibuk, maka anda bisa memilih fitur yang pertama. Untuk info lebih lanjut, kalian bisa membuka situsnya di www.dompetdhuafa.org
Selamat Berbagi dan Berbahagialah Karena Berbagi!

Sabtu, 16 Februari 2019

Terjebak dalam TTM

TTM atau Teman Tapi Mesra. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah punya pengalaman dalam hal ini? Bagaimana perasaan kalian?
Setiap orang mungkin berlainan ceritanya karena perbedaan latar belakang, tapi dalam bentuk apa pun TTM itu adalah hal yang abstrak dan melelahkan. Iya nggak?
Aku termasuk orang yang awam dalam hal percintaan. Sepanjang umur ini aku belum pernah pacaran. Jatuh cinta pun adalah hal yang sulit bagiku. Sekalinya suka seseorang ternyata imajinatif banget. Cinta sebelah pihak, dan ketika aku berusaha menyatakan malah ditolak. Hahaha.
Sekarang berhasil move on dan menemukan cinta baru tapi malah terjebak dengan bentuk TTM. Entah sebenarnya bagaimana dia memaknai hubungan kami. Tapi aku memaknainya sebagai TTM.
Bingung, aku selalu dibuat bingung sama tingkahnya. Sebentar - sebentar godain, sebentar - sebentar ngusilin, sebentar - sebentar so cool, sebentar - sebentar cuek. Ih gemes, pengen nyubit pipinya. Sayangnya pipinya tirus jadi gak bisa dicubit. wkwkwk
Kadang aku suka ngasih kode, tapi kenapa dia itu tidak peka banget. Jadi gregetan sendiri. Terus kalau aku ngambek, dia malah ketawa puas. Apa coba maksudnya. Pernah si suatu ketika dia lagi butuh bantuan, aku cuma liatin aja. Habis aku lagi kesel sama dia. Eh dia bilang, "emang dasar kamu gak peka". Lho lho, kenapa dia jadi memutar balikan fakta? Siapa yang sebenarnya tidak peka?
Katanya aku manja, cengeng, suka lebay, terus kekanakan. Pokoknya yang gak baik baik, menurut dia itu karakterku. Sekali - sekali kek muji aku gitu. Huh.
Tapi ya, kadang dia itu tiba - tiba perhatian banget. Aku butuh bantuan langsung ditolongin, sampai selesai. Terus pas aku sibuk sama tugas dia menghampiri aku ngasih masukan - masukan. Eaaaa....aku sulit lho mengartikan itu semua. Apa akunya yang salah tafsir apa gimana si.
Tapi kadang ya, dia itu gak peduli banget. Masa aku angkat - angkat barang berat dia lihatin aja. Aku kesel kan. Terus aku bilang, "kamu cuma liatin aja, gak mau bantu aku?". Dia dengan ketusnya jawab, "jangan manja". Pengen nimpuk dia deh, serius. Aku manjanya sama orang - orang terdekat aku aja lho. Sama orang gak akrab biasanya aku strong dan gak mau dibantu. Kamu tau gak si artinya, kalau kamu itu sudah aku anggap orang terdekatku.
Saking aku minim pengalaman dalam hal ini, sering banget aku chat ke temen. Minta pendapat dia. Terus dia jadi seneng aja dengar ceritaku. Dia mendukung banget. Malah dia bilang dia ingin melihat interaksiku langsung dengan TTM ku itu. Katanya mirip drama Korea. Lho, drama Korea darimananya? ini gak ada romantis - romantisnya lho. Malah lebih seringnya bikin galau. Terlebih dia punya temen cewek yang cukup banyak. huh

Kamis, 07 Februari 2019

Di Balik Gemerlap Dunia

Ketika dalam hal dunia kita memandang ke atas, tentu banyak orang - orang yang membuatmu iri. Hidup mereka begitu mudah, begitu indah. Bergelimang harta, pangkat tinggi. Sementara kamu bukan apa - apa. Hmm...apakah hidup ini adil?
Coba pandang hidup mereka dari sisi lain. Coba perhatikan lagi. Mereka tak selamanya berkelebihan. Ada hal yang membuat mereka kurang, itu pasti.
Ada hal yang mungkin membuat mereka frustasi.
Hanya saja...kau menutup diri untuk melihat hal ini.
Kau hanya melihat ia dari sisi indahnya, padahal setiap yang indah juga mempunyai bagian terluka meski hanya sekedar saja.
Allah itu adil, manusia satu diberi kemudahan dalam mencari rizki sampai ia bisa menimbun hartanya namun di sisi lain ia mempunyai anak yang "spesial", membutuhkan perhatian khusus, membutuhkan perawatan khusus dan itu bukan perkara yang sedikit biayanya.
Jadi Allah adil kan?
Bayangkan jika Allah tidak memberikannya kemudahan rizki, ditambah dengan ujian yang seperti itu, apa ia tidak semakin jatuh?
Ada juga manusia yang memang kesulitan dalam mencari rizki. Uang pas - pasan, bahkan untuk makan pun kadang harus ngutang. Tapi, dia dikarunia keluarga yang lengkap, yang sehat dan yang menerima. Mereka ceria dan tak pernah mengeluh akan keadaan. Mereka bisa memahami dan tidak memberi tuntutan.
Lalu apa lagi yang belum membuat bahagia? Bukankah harta yang paling berharga adalah keluarga?
Allah memang the best planner. Setiap sesuatu direncanakan dengan detail. Dia adil. Maka disatu sisi seseorang diuji, disisi lain ia diberkahi.
Maka jangan hanya memandang orang dari sisi indah sehingga membuatmu merasa iri dan tidak diadili oleh Maha Kuasa,
lihat mereka juga dari sisi ujiannya, maka kau akan selalu merasa bersyukur.
Semoga bisa menjadi renungan.

Jumat, 01 Februari 2019

Hidup Itu Memang Dibawa Santai Saja, Tapi Jangan Terlalu Santai

 Source Pic: twitter.com
"Urip kuwi yo digowe santae wae, ning yo ojo kesantaenen. Janu janu anggone kowe urip olehe mung santae otok?"
Pernyataan ini adalah bahasa Jawa yang saya buat dengan melihat realita kehidupan yang ada. Kalimat tersebut berarti "hidup itu memang dibawa santai, tapi jangan terlalu santai juga. Jangan jangan hidup kamu hanya mendapatkan "santai" saja".
Di dalam masyarakat kita terutama orang dewasa banyak sekali kita jumpai orang - orang yang merupakan penganut setia prinsip ini. Sayangnya idealisme mereka yang kuat ini tak diimbangi dengan kebijaksanaan mereka dalam mengaplikasikan prinsipnya di kehidupan. Mereka tak cukup tahu, kapan saat yang tepat untuk menerapkan prinsip "dibawa santai saja", dan kapan saat yang tepat untuk "work hard".
Miris memang. Apalagi hal ini sering saya jumpai dalam hal tanggung jawab. Hey bung, tanggung jawab mana bisa kalian anggap remeh dengan mengatakan "dibawa santai saja". Saya pikir itu hanya alibi mereka untuk lari dari tanggungjawab.
Realita nyata ini ya, ketika saya kuliah dulu, para mahasiswa juga pasti pernah merasakan. Ketika mendapat tugas makalah kelompok dan mendapatkan materi yang cukup berat, salah satu anggota kelompok mengatakan "dibawa santai saja, pasti kelar kok". Batin saya, "eh busyet ini anak, dibawa santai mana kelar bang". Besoknya pas kita sekelompok janjian buat mencari materi, eh nggak nongol tuh batang hidungnya. Beberapa hari kemudian pas kita mau menyusun makalahnya, dia juga nongol lagi. Dia masih hidup apa kagak si? Giliran pas makalah sudah jadi tinggal pembagian materi buat presentasi, eh dia nongol sambil pasang muka polos. "Sorry ya kemarin - kemarin gue sibuk, apa lagi yang masih kurang gue bantuin deh". Serius, pengen gue tabok tuh anak. Pantes dia bilang, "dibawa santai saja pasti kelar kok". Iya, lo santai - santai, kita yang kelarin makalah.
Di mana kesadaran dia sebagai mahasiswa? Apa dengan santai seperti itu dia bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Jangan - jangan selama dia kuliah cuma dapat gelar saja tanpa ada ilmu yang diserap.
Saya tunjukkan fakta lagi. Hal ini juga terjadi dilingkungan kerja. Memang dalam lingkungan kerja tak semua karyawan mempunyai etos kerja yang bagus. Ada yang sadar akan tanggungjawabnya, ada yang asal - asalan melakukan tanggungjawabnya dan ada yang tidak bertanggungjawab. Tipe yang kedua dan terakhir ini yang bikin gemes. Woy sadar gak si, kamu itu digaji lho. Tapi kok yang masih suka seenaknya dalam melakukan tanggungjawab. Makan gaji buta itu. Hati - hati jangan - jangan gajinya gak berkah.
Suka gemes aja sama yang kayak gini. Harusnya masuk jam kerja masih ngrumpi aja. Woy, kalau mau ngrumpi mending jangan kerja. Tuh, nongki cantik dicafe. Giliran pas atasan sidak, eh dengan sifat bunglonnya sok jadi karyawan teladan. Padahal biasanya, sudah berapa jam kerja yang dia korupsi.
Apa yang ia dapat dari sistem kerja yang asal - asalan sesuka dia itu? Berangkat telat, kalau ada kesempatan mending tinggal ngrumpi, kalau ada tugas tambahan jadi alasan buat jalan - jalan. Suka prihatin. Dia kerja tapi yang didapat hanya gaji, pun aku gak yakin itu gajinya berkah jadi cukup atau tidak buat hidupnya entahlah. Harusnya ketika memasuki dunia kerja itu yang dicari jangan hanya gaji, tapi juga peningkatan kualitas diri. Disiplin, tertib, dewasa dalam menyikapi masalah, open minded dan yang sejak tadi kita bicarakan sadar akan tanggungjawab.
Pekerjaan adalah sebuah tanggungjawab. Tidak bisa kita meremehkannya dengan dibuat santai saja. Kalau ingin santai jangan kerja, tidur di rumah sana.
Lalu kapan seharusnya kamu menerapkan prinsip "dibawa santai saja"? Jawabannya bukan dalam hal tanggungjawab. Tetapi lebih pada sesuatu yang "mengancam positifitas hidupmu". Misalnya merespon orang yang tidak suka pada kita, baik itu nyinyirannya atau sikapnya. Mereka berulang kali berkata buruk untuk menjatuhkanmu, santai saja. Mereka selalu fokus melihat kita, itu artinya kita berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka.
Semoga postingan ini bermanfaat dan membuka kesadaran kalian yang masih belum sadar akan tugas dan tanggungjawabnya.

How to Know A Toxic Friend


Saat ini sedang booming istilah "toxic friend". Bagiku mengartikan istilah tersebut dengan makna "teman yang beracun layaknya toksin". Toksin ini sifatnya seperti racun, tapi kalau racun itu dari luar tubuh kita sedangkan toksin ada di dalam tubuh kita. Racun tentu saja efeknya bisa kau hindari jika kau tidak mengonsumsinya. Sedangkan toksin bisa merusak tubuhmu tanpa kau sadari.
Adapun istilah toxic friend sendiri ibarat seperti di atas, teman yang tanpa kau sadari lama lama dia akan merusakmu. Memang sangat betul sekali jika ada penelitian mengatakan kalau kegemukan itu menular pada teman sepergaulan. Artinya jika temanmu gemuk maka kemungkinan besar kamu juga akan gemuk. Itu dari segi fisik, dari segi karakter pun akan demikian. Apalagi jika karakter negatif akan lebih cepat mempengaruhimu. Maka berhati hatilah dalam memilih teman. Sebelum kau memutuskan untuk berteman lebih dekat, pasanglah indikator terlebih dahulu untuk menjadi kriteria teman baikmu.
1. Pilih teman yang senang membicarakan cita - cita, dan rencana ke depan menuju kesuksesan
Orang yang mempunyai planning ke depan yang bagus dan positif biasanya orang yang tertib, disiplin, optimis dan pantang menyerah. Dengan energi positifnya ini kamu secara tidak sadar bisa merasakan pancarannya. Secara perlahan kamu akan menjadi bersemangat juga seperti dia. Teman seperti ini akan membawamu pada jalan kesuksesan.
2. Jangan memilih teman yang suka membicarakan aib orang lain
Seperti pada artikel yang pernah saya buat sebelumnya (bisa dicek di sini), teman yang suka membicarakan aib orang lain di depanmu maka di belakangmu kau akan menjadi sasarannya juga. Teman seperti itu tidak pernah tulus dalam berteman. Bagi mereka hidup adalah tentang mereka sendiri. Entah di dalam dirinya sudah muncul rasa dengki atau bagaimana sehingga dia selalu berusaha menjatuhkan orang lain. Ketika orang lain sukses dia merasa iri, ketika orang lebih tinggi darinya ia berusaha untuk menjatuhkannya.
3. Pilih teman yang bisa menjadi pendengar yang baik
Beberapa orang terlalu egois dengan selalu memonopoli pembicaraan. Mereka hanya ingin ide mereka tersampaikan tanpa meminta pendapat orang lain. Mereka hanya ingin didengar tanpa perlu mendengarkan orang lain. Orang - orang seperti ini cenderung tidak memuaskan ketika diajak berteman. Inti dari pertemanan adalah ada setiap saat. Disaat senang tentu bisa kalian nikmati bersama. Adapun disaat susah bagaimana? Disaat seperti ini tentu kalian membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesah kalian dengan baik. Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi ketika menceritakan masalahnya. Mereka hanya ingin didengar. Orang yang suka memonopoli pembicaraan cenderung akan memutuskan isi curahanmu dan kemudian menasehati kamu dengan pemikiran dia. Padahal hati yang sedang gundah pasti sangat malas mendengarkan ocehan nasehat macam itu. Mereka hanya ingin didengarkan dan ditemani saja. Bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masalah itu tapi ada teman yang siap membantu.
Itulah sedikit ulasan yang bisa saya simpulkan dari mengamati realita kehidupan di sekitar saya. Mungkin tidak semua indikator itu tepat, tapi paling tidak orang - orang yang seperti saya sebutkan diindikator itu memanglah bermanfaat untuk pertemanan. Kecuali indikator nomor 2, mereka harus dijauhi.

Sabtu, 26 Januari 2019

Review Buku Gita Savitri Rentang Kisah


Source Pic: gramedia.com
Excited banget waktu pertama kali tahu Kak Gita mengeluarkan sebuah buku. Seketika itu juga langsung pengen beli. Sudah nyoba nyari lewat toko buku online. Tapi kok belum ketemu, atau aku yang gak pandai stalking si?
Singkat cerita, ada bazar buku di kotaku. Aku memang hobi banget datang ke bazar buku. Entah dapat 1 atau 2, pasti ada aja buku yang aku kantongin ke rumah. Nah secara gak sengaja aku nemu buku ini dibazar buku. Itupun ditunjukkan sama temanku.
"Eh ada bukunya Gita, katanya kamu lagi nyari"
"Eh iya, wow. Aku mau beli ah"
Langsung tanpa pikir panjang aku beli buku itu. Harganya antara 50 - 60an, aku rada lupa.
Dan inilah kesanku setelah baca buku dari Gita Savitri.
Memang kalau kalian ingin membaca buku yang melankolis dan dipenuhi diksi yang puitis, buku ini bukanlah sasaran yang tepat. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir layaknya bahasa lisan. Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa percakapan sehari - hari bukan bahasa baku. Ketika baca buku ini, seketika aku bisa membayangkan Kak Gita ngomong di dalam bukunya. Kalau kalian masih belum bisa membayangkan coba lihat saja vlognya. Bahasa yang digunakan kurang lebih sama seperti itu.
Biasanya si aku tidak terlalu suka baca buku yang bahasa tulisnya lebih mirip ke bahasa lisan. Aku lebih suka buku dengan bahasa yang baku dan tata tulis yang bagus. Tapi di sini bukan itu tujuan utamaku membaca buku ini. Lebih karena sosok Gita dan aku ingin tahu lebih banyak tentang Gita. Kenapa aku kagum sama dia? Banyak faktor
1. Gita ada perempuan yang cantik tapi nggak ribet ( Aku termasuk perempuan yang gak suka ribet, tapi aku gak cantik. Haha)
2. Gita adalah orang yang cerdas. Dari pemikiran - pemikiran yang ia sampaikan di video atau di bukunya, aku tahu kalau dia orang cerdas (Aku termasuk orang cerdas gak ya? Pokoknya kata  teman - temanku, aku pintar. Bukan sombong lho ya, aku hanya menyalurkan opini teman)
3. Gita itu orang yang introvert. Tapi dia bisa mengatasi ke introvertannya dengan baik. Bahkan dia bisa ngomong di depan kamera, shooting ditelevisi dan jadi pembicara diseminar. (Aku juga orang introvert, bertemu dengan banyak orang, tampil didepan dan mengomunikasikan pemikiranku kepada orang asing bukanlah hal yang mudah. Aku ingin bisa mengatasi ke introvertanku dengan baik seperti Gita)
4. Pemikiran Gita, beberapa pemikirannya sejalan dengan pemikiranku. Yah meskipun ada juga beberapa yang membuatku tidak setuju. Tapi lebih banyak sependapatnya.
5. Dia kuliah di luar negeri. Ketahuan banget kan kalau aku pengen kuliah di luar negeri juga, tapi apalah daya. TOEFL aja belum lulus, kursus baru kelas Post Int aja udah nyerah. Hahaha

Kembali ke review. Buku ini lebih menonjolkan alur. Alur hidupnya Gita lebib tepatnya. Pokoknya kalau kamu ingin lebih mengenal sosok Gita, wajib baca buku ini. Gak rugi kok. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil, semangat positifnya, semangat belajarnya, mindset positifnya. Pokoknya banyak hal positif ketika kamu membaca buku ini.
Gita juga adalah seorang blogger. Beberapa tulisan di blognya juga dimuat di buku ini. Aku salut si, karena Gita berani menuangkan apa pun pemikirannya tentang kehidupan ke dalam tulisannya tanpa takut komentar dari orang lain. Kadang kalau aku nulis di blog suka masih mikir - mikir, gimana respon orang. Terus kalau ada yang nyinyir gimana. That's why aku tidak membiarkan orang - orang terdekatku membaca blogku. Hahaha. Karena di sekitarku banyak orang nyinyir.
Sekian dulu reviewnya, memang masih ngambang si. Tapi ya gitu, kalau kalian pengen lebih detail mending beli bukunya. Murah kok, dibandingkan dengan manfaat yang akan kau dapat.

"Git, gue promoin buku lo ni"
Hadeh, buku Gita gak dipromoin juga udah laku keras. Bahkan sudah dicetak ulang. Lagi pula promo di blog yang sepi pengunjung ini apa manfaatnya. Haha. Sudahlah kebanyakan omong ni.