Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2019

Padamu, GURU


Ketika waktu perlahan berjalan,
tanpa kusadari kita akan berada pada ujung perpisahan
Aku terusik akan kenangan silam,
di mana sebuah pertemuan yang tak pernah ku bayangkan
Aku menjadi bagian hidupmu, dan engkau menjadi bagian hidupku
Tak ku pahami keadaan kala itu,
Tapi engkau menggenggam lembut tanganku
Meyakinkanku untuk masuk dalam majelis ilmumu

Masa berjalan secara alamiahnya,
Aku mulai beranjak dewasa, mulai memahami tiap petuah yang kau sabda
Jika saja waktu bisa ku putar, aku tak akan membantahnya
Apa yang kau maksudkan adalah selalu demi kebaikan
Lalu, bagaimana cara menebus ini semua?
Terlalu banyak kesalahanku padamu,
Sementara terlalu banyak jasamu terhadapku
Lalu, masih pantaskah aku untuk sekedar mencium tanganmu?

Padamu, sang pahlawan tempatku menggantungkan harapan
Memupuk tiap semangat dan keyakinan akan kesuksesan masa depan
Padamu, yang peluhnya tak sempat ku usap
Padahal pengorbananmu untukku selalu tanpa harap
Jika kata “terima kasih” sanggup membalaskan
Akan ku ucap dalam ribuan pengulangan

Terimakasih, terimakasih, terimakasih
Terimakasih untuk semua ketulusan yang kau berikan
Terimakasih untuk sinar yang menerangi jalan yang kau pancarkan
Terimakasih untuk langkah yang kau sandingkan
Terimakasih untuk semua yang kau berikan
GURU
Pekalongan, 27 April 2019

Kamis, 25 Oktober 2018

(PUISI) Tabir Kehidupan


Inilah kehidupan
Sesuatu terjadi pada hal-hal yang sulit dipercayai oleh akal..
Tapi jangan pernah menyalahkan akal karena sulit memahaminya
Lantaran takdir tak selalu sesuai logika akal..
Takdir terjadi karena irodah dari Sang Maha Kuasa
Tak berarti kita juga menyalahkan Sang Maha Kuasa, sebab inilah Qudrah-Nya
Tak perlu kita bersusah payah memikirkan apa yang akan terjadi pada kita
Cukup kita berpasrah pada takdir-Nya, dan berusaha agar takdir-Nya berpihak pada kita
Tak perlu takut, sebab memang tak ada yang perlu ditakutkan kecuali Dia
Dia tahu kapan harus menggunakan qudrah dan iradah-Nya
Untuk kita..demi kita..Dia mengatur yang terbaik
Maka hanya tinggal menunggu waktu saja
Disaat itu, bungamu akan mekar..
Dan wanginya akan mengalahkan wangi bunga lain,
hingga membuat mereka iri
Disaat itu, kau tidak boleh lupa diri
Sebab pencapaianmu hanyalah titipan ilahi,
Mungkin..akan diambil kembali
Maka tetaplah bersimpuh dengan penuh kerendahan hati pada jalan yang diridhoi
Begitulah caranya..hidup pada dunia yang tak abadi
Tak bermaksud menggurui..
Puisi ini hanya sebatas curahan hati..

Senin, 15 Oktober 2018

(PUISI) CINTA DALAM DIAM

Bagi kalian yang pernah merasakan betapa menyesakkannya cinta sendirian dan tidak bisa mengungkapkannya. Puisi kali ini mungkin bisa mewakili perasaan kalian. Tenang kawan kalian tidak sendirian. Banyak orang yang juga pernah merasakan hal demikian. Toh, mereka bisa melewatinya. Beberapa dari mereka juga bahkan menemukan cinta sejatinya. Intinya adalah "IKHLAS". Jika kalian telah ikhlas, maka Allah akan membalas keikhlasan kalian. Entah itu dengan memberikan pengganti yang lebih baik atau bahkan mempersatukan kalian dengan cinta "itu" dengan skenario yang tidak terduga.

CINTA DALAM DIAM
Oleh :E.ssie

Kepergian bukanlah sebuah kekhawatiran bagiku,
karena aku yakin aku masih dapat melihatmu (kembali) dilain masa.
 Hal yang selalu membuatku takut justru adalah aku tersadar bahwa kau adalah ketidaknyataan bagiku, lalu aku harus kembali mengubur harapan yang selalu membuatku tetap tegak berdiri
Lalu bagaimana aku menjalankan kehidupanku selanjutnya? Tanpa angan tentangmu, tanpa menggantungkan harapan padamu

Aku lelah, sejujurnya aku ingin cinta yang biasa saja, yang terbalaskan dengan sempurna
Bukan imajinatif penuh luka. Aku ingin berhenti tapi aku tak bisa mengontrol hati.
Di tempat yang sama aku selalu menanti. Berharap kau datang menjemputku.
Bodohnya aku, tetap setia meski tanpa kejelasan
Siapa kau? sampai aku jatuh cinta sedalam ini
Siapa kau? sampai aku terus berurai airmata memikirkanmu

Sejak dulu, aku selalu belajar bagaimana caranya bertahan dalam kesulitan
Tapi bukan pertahanan yang sesakit ini
Tahukah kau, aku telah melewatkan banyak yang baik hanya untuk bertahan padamu
Padahal kau belum tentu sebaik mereka yang datang
Angin membelai berusaha menyadarkanku, bahwa ini semua adalah ketidakmungkinan
Tapi keras kepalanya aku, beralibi kalau bagi Tuhan (mungkin saja)

Tapi aku lupa. Percuma saja aku berteriak - teriak seperti ini, karena memang kau bukan tersalah.
Hanya aku yang bodoh tak bisa mengkondisikan hati
Percuma saja terus meratapi diri, karena kau tak akan pernah berbalik ke arahku.
Kau tak akan pernah berpaling memandangku. Kau tak akan pernah tahu cinta tulusku.

Lalu, aku harus kembali memupuskan harapan dan berpasrah diri.
Barang kali saja Tuhan akan memberikan balasan atas pengorbananku ini
Balasan untuk sebuah ketulusan
Aku ikhlas jika memang tidak dipersatukan di dunia. Tapi semoga dipertemukan di surga
Dan semoga cintamu tidak sesakit yang aku rasakan
Semoga perjuanganmu tidak sesulit yang aku jalankan


Puisi ini bukan bertujuan untuk membuat kita meratapi diri. Tapi puisi ini mengajarkan kita untuk mengikhlaskan sesuatu yang telah kita perjuangkan namun tak mungkin kita dapatkan. Karena itu ikhlas adalah satu - satunya jalan. Kita tidak bisa memaksakan perasaan. Percayalah Tuhan punya balasan untuk orang - orang yang IKHLAS. Semoga bisa memberikan motivasi

Kamis, 26 April 2018

Puisi tentang 'Cinta Sepihak'



Kawan, apakah kalian pernah merasakan ‘cinta sepihak’? Ya, ‘cinta sepihak’ atau yang biasa kita sebut ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ pasti membuat kamu merasa sakit. Lelah, dan merasa diri kamu begitu menyedihkan. Kamu pasti ingin sekali menyudahinya dan berpaling ke yang lain namun kamu tidak bisa. Iya kan?
Karena beberapa waktu lalu aku tidak ada kerjaan jadi aku isi dengan mencoret – coret kertas dan jadilah sebuah puisi tentang ‘cinta sepihak’. Isinya 50 % dari refleksi pengalaman pribadi, selebih dari hasil observasi menonton drama Korea ataupun membaca novel remaja. Selamat menikmati kawan!
AKU dan PEREMPUAN YANG KAU SUKA
Karya : E.ssie

Menurutmu apa aku juga tidak suka menulis? Sama seperti perempuan itu,
Aku suka menulis, meski terkadang yang kutulis adalah hal – hal yang tidak bisa dianggap penting.
Menurutmu apa aku kurang berintelegen? Sama sepertinya,
Aku dapat memahami banyak hal dan situasi yang tidak dapat dibaca orang lain, meski terkadang aku tak mampu menyamaikan apa yang kupahami.
Aku dan perempuan itu sama.
Menurutmu apa aku juga tidak suka membaca buku?
Aku suka buku, meski yang kubaca hanya lembaran – lembaran tertentu.
Aku dan perempuan itu, kurang lebih sama
Cara berpikir, penyembunyi rasa yang ulung dan pemuja kelembutan
Terkadang aku juga setegas beliau, tak dapat dipungkiri sedikit banyak aku mengadopsi wataknya
Dia, perempuan yang kau suka pernah menjadi sosok yang ku panuti
Dan mungkin sampai sekarang
Tapi, mengapa? Dia berkesempatan terlebih dahulu bertemu denganmu
Sementara sampai sekarangpun kau masih sebatas ilusi bagiku
Lalu kenapa? Kau menjadi begitu akrab dengannya
Sementara hal itu masih menjadi sebatas impianku
Lalu kenapa? Dan mengapa? Kau menjadi begitu terpesona dengannya
Padahal aku, dan perempuan yang kau suka itu kurang lebih sama saja

Pekalongan, 24 April 2018

Selasa, 03 April 2018

Puisi di Waktu Senggang

Kapan kalian biasanya menulis teman? Kalau biasanya ide dan keinginan untuk menulis itu datang secara tiba - tiba. Jadi, tidak bisa dipaksakan ataupun diprediksi. Kalau dipaksakan biasanya hasil tulisannya kurang sedap dibaca. Seringnya si, ketika sedang tidak ada kerjaan dan di dekat saya berdiam diri ada kertas dan pulpen. Pasti deh, hasrat "mencoret - coret" langsung tidak bisa dibendung. Nah, ini aku bagikan kepada kalian puisi yang aku buat ketika aku lagi menganggur beberapa waktu lalu.
Puisi ini berjudul (?), selamat menikmati:
(?)
Karya : E.ssie

Waktu bergerak dalam kontinuitasnya
sementara perjalanan masa terus menghadirkan perubahan
Mereka berubah, banyak hal yang telah berubah
sementara aku tak suka dengan keasingan
Aku merasa yang biasa mulai bergerak menjauh
dan yang baru tak datang mendekat
Aku sendiri.....
layaknya poros pada lingkarang yang tak berteman
Lalu, masihkah aku disebut 'manusia'?
Aku mulai ragu
Entahlah, pada siapa aku harus mencari jawaban
Tapi, apakah benar? yang biasa menjauh?
Atau aku mengurung diri?

                                                       Pekalongan, 02 April 2018

Demikianlah puisi saya yang masih banyak kekurangan. Kenapa judulnya (?), karena saya bingung. Sekian, semoga bermanfaat.